Minggu, 13 April 2014

Cahaya permata hitam di tanah seperempat surga


Selamat pagi wahai sahabat.
Salam untukmu di manapun kau berada.
Pagi ini sang permata sudah siap untuk di ambil dari pohonnya.
semoga menjadi rahmat untuk kita semua.


Dari tanah seperempat surga.
“Kami hanya bisa memetiknya di pagi buta.
dengan harapan dapat bersatu dengan darahmu.
dalam melakukan hal yang baik untuk orang lain.
uang di simpannya untuk merajut masa tua.
dengan sebuah harapan.
dari setuhan jemari ini yang di temani oleh embun di pagi hari.
dapat menjadi cahaya bersama sang surya untuk melengkapi pagimu.
Semoga dunia dapat tersenyum saat melihatnya.
sang permata yang menjadi sumber pencari nafkah.
untuk kami yang sudah tua” kata pak tua.
yang masih bisa tersenyum bersama cangkul di punggungnya.

Wahai penguasa yang budiman.
tak terlihatkah luka mereka yang mulia ini.
apakah tetap seperti ini ke depannya?
tetap mulia di balik penderitaan akan harga dan tahta.

Lihatlah mereka dengan hatimu yang masih tersisa.
tua renta yang seharusnya di jaga.
malah kau jadikan budak di tanah kelahirannya sendiri.

Kau Pemberi Harapan Palsu yang hebat.
dengan harapan kau butakan matanya.
dengan lembut kau jatuhkan tubuhnya.
dengan merdu kau habiskan waktunya.

Doanya, harapannya, sentuhannya, dan senyumannya.
adalah sesuatu yang lebih indah, lebih mulia, lebih suci.
 dan lebih berharga dari pada sang permata.

3 komentar: