Jumat, 25 April 2014

suara yang terdiam

1.      akhirnya kita telah memiliki jalan yang berbeda.
melangkah di jalan yang sangat berbeda.
Mulai meninggalkan semua memori indah kemarin.
Dan saling melupakan satu sama lain.
Kau yang selalu terluka, dan selalu ada di sampingku.
Bagaimana aku mampu untuk memaafkan diriku.
Sedangkan setiap hari, luka itu di peluk oleh sepi.
menjerit-jerit dalam kehampaan.
Mungkinkah ini yang namanya jatuh cinta.
Jatuh cinta namun seperti mau mati.
membuatmu merasakan semuanya dalam kesendirian.
Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.
Seperti apapun sakitnya rasa itu.
Aku rindu sangat merindukanmu.
Aku tak mampu menahannya lagi.
Untuk yang satu ini.
Aku menangis.
Menangisimu saat tak ada seorangpun di sekitarku.
Jangan lupakan aku.
kumohon jangan pernah lupakan aku.
Aku yang pernah ada di sisimu.
Karena aku selalu menyayangimu.
Dapatkah kau dengarkan aku.
Itulah suara hatiku yang terdiam.
Meskipun kau tak ada di sampingku.
Itu bukanlah sebuah perpisahan.
Karena takdirmu, takdir yang kau pilih.
Akan mempertemukan kita kembali.
Aku akan menunggumu selamanya.
Bahkan jika kau telah melupakanku. 
Karena cinta.
Cinta yang ku punya untukmu.
Airmatamu,sepimu. Akan ku bawa mereka bersamaku.
Jangan menangis.
Ku mohon jangan menangis lagi.
Bahkan jika dunia membencimu.
Aku mencintaimu!
Dapatkah kau dengarkan suara itu.
itulah suara emas di dalam sunyiku.

Minggu, 13 April 2014

Cahaya permata hitam di tanah seperempat surga


Selamat pagi wahai sahabat.
Salam untukmu di manapun kau berada.
Pagi ini sang permata sudah siap untuk di ambil dari pohonnya.
semoga menjadi rahmat untuk kita semua.


Dari tanah seperempat surga.
“Kami hanya bisa memetiknya di pagi buta.
dengan harapan dapat bersatu dengan darahmu.
dalam melakukan hal yang baik untuk orang lain.
uang di simpannya untuk merajut masa tua.
dengan sebuah harapan.
dari setuhan jemari ini yang di temani oleh embun di pagi hari.
dapat menjadi cahaya bersama sang surya untuk melengkapi pagimu.
Semoga dunia dapat tersenyum saat melihatnya.
sang permata yang menjadi sumber pencari nafkah.
untuk kami yang sudah tua” kata pak tua.
yang masih bisa tersenyum bersama cangkul di punggungnya.

Wahai penguasa yang budiman.
tak terlihatkah luka mereka yang mulia ini.
apakah tetap seperti ini ke depannya?
tetap mulia di balik penderitaan akan harga dan tahta.

Lihatlah mereka dengan hatimu yang masih tersisa.
tua renta yang seharusnya di jaga.
malah kau jadikan budak di tanah kelahirannya sendiri.

Kau Pemberi Harapan Palsu yang hebat.
dengan harapan kau butakan matanya.
dengan lembut kau jatuhkan tubuhnya.
dengan merdu kau habiskan waktunya.

Doanya, harapannya, sentuhannya, dan senyumannya.
adalah sesuatu yang lebih indah, lebih mulia, lebih suci.
 dan lebih berharga dari pada sang permata.

LUKA YANG MEMBEKAS TANPA SUARA

elok parasmu pernah berhasil mengoyangkan prinsip hidupku.
seiring waktu terus yang terus bergulir.
bagaikan daratan terus terkikis oleh ombak sang lautan.
ku tau tak mungkin kembali tuk kedua kalinya.

kau berhasil membuatku terdiam.
rasa bersalah padamu tak mungkin ku elakkan.
meminta-minta kata maaf dari engkau yang ku sia-siakan.
rasa ini menyakitkan, mampu membunuh hatiku secara perlahan.

detik demi detik waktu terus bergulir.
tubuh ini sudah mulai menua.
menjadi sarang bagi jutaan penyakit yang menantinya.
aku tak mau mengikat sesuatu yang tak mungkin ku gengam.

aku hanyalah seorang petualang.
yang mesti berjalan hingga waktu tuaku datang.
dan menceritakan keindahan akan sebuah maha karya sang pencipta.
menyimpan luka yang meronta-ronta akan ribuaan rasa sakitnya.

mata yang ku tatap akankah tetap sama.
putihnya.. hitamnya.. dan tanda di atas matanya.
biar aku menyimpannya dalam getaran jiwa.
yang terus memaksa di kala hujan tiba.

tawamu selalu di atas dukaku.
duka yang ku simpan selalu di bawah kata maaf darimu.
tersimpan dan membekas tanpa suara.
ku diamkan menjadi penyakit yang selalu menemani sisa umurku.